BANDAR LAMPUNG — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menunjukkan dinamika tinggi. Letusan disertai semburan material dari dalam kawah terus berlangsung dalam beberapa hari terakhir, meski intensitas hujan abu vulkanik yang sempat menyelimuti Provinsi Lampung kini mulai menurun.
Berdasarkan analisis cuaca, perubahan arah angin menjadi penyebab utama berkurangnya paparan abu vulkanik di daratan Lampung. Angin yang bergerak konsisten ke arah utara membuat sebaran abu lebih banyak mengarah ke wilayah Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.
Kondisi tersebut membuat kawasan pesisir Lampung Selatan, Kalianda, hingga sebagian besar wilayah Bandar Lampung berangsur bersih. Langit yang sebelumnya tertutup kabut abu mulai kembali cerah sehingga aktivitas masyarakat perlahan kembali normal.
Meski demikian, pemerintah menegaskan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Status itu dipertahankan karena aktivitas internal gunung api masih tinggi, ditandai dengan semburan lava pijar pada malam hari serta kolom asap tebal yang terus membumbung dari kawah.
Di sektor transportasi laut, kondisi penyeberangan Bakauheni–Merak masih berjalan normal. Jarak pandang di perairan Selat Sunda tercatat sekitar enam kilometer dengan kondisi cuaca dan gelombang yang relatif aman.
Menanggapi situasi tersebut, Anggota Komisi V DPR RI, Aprozi Alam, turun langsung melakukan peninjauan sekaligus mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meski dampak hujan abu di daratan mulai berkurang.
Menurut Aprozi, perubahan arah angin dapat terjadi sewaktu-waktu sehingga potensi sebaran abu ke wilayah Lampung masih tetap ada.
“Masyarakat jangan lengah hanya karena hujan abu mulai berkurang. Arah angin bisa berubah kapan saja, sehingga kewaspadaan harus tetap dijaga,” kata Aprozi.
Ia juga meminta BMKG terus memperbarui informasi pergerakan abu vulkanik secara real-time agar masyarakat memperoleh informasi yang cepat dan akurat.
Selain itu, Aprozi mengungkapkan dirinya telah dua kali berkomunikasi langsung dengan Basarnas Provinsi Lampung dan Basarnas Provinsi Banten untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terjadinya kondisi darurat.
“Saya sudah berkoordinasi dua kali dengan Basarnas Lampung dan Basarnas Banten agar tetap bersiaga selama 1×24 jam serta menempatkan posko-posko siaga di kawasan pesisir dan perairan yang dianggap rawan,” ujarnya.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan respons cepat apabila aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan yang memerlukan tindakan darurat.
Aprozi juga mengajak masyarakat di Provinsi Lampung maupun Banten, terutama yang tinggal di kawasan pesisir Selat Sunda, agar tetap mematuhi radius aman yang telah ditetapkan serta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.
“Saya mengimbau seluruh masyarakat agar hanya mengacu pada informasi resmi dari BMKG, PVMBG, serta pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Jangan sampai kita terpengaruh hoaks di tengah situasi seperti ini. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” tegasnya.
Pemerintah bersama instansi terkait terus mengimbau warga untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti seluruh arahan dari pihak berwenang selama status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga).













