Dari Layar ke Podium, Wartawan Lampung Menyusun Mimpi di Arena E-Sports

BANDAR LAMPUNG — Sabtu (22/8/2026) biasanya menjadi waktu untuk melepas penat setelah sepekan bekerja. Namun, suasana berbeda terlihat di Gedung Balai Sofyan, Kantor PWI Lampung.

Puluhan wartawan justru sibuk menatap layar. Jari-jari bergerak cepat, mata tertuju pada permainan, sementara komunikasi antarpemain terdengar bersahutan. Tidak ada kamera atau aktivitas mengejar narasumber. Kali ini, mereka sedang bertarung di arena digital.

Para wartawan tersebut mengikuti seleksi atlet e-sports SIWO PWI Lampung sebagai bagian dari persiapan menghadapi Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) 2027.

Tiga nomor menjadi arena persaingan, yakni PUBG Mobile, Mobile Legends, dan E-Football/PES. Bukan sekadar kemampuan memainkan gim yang diuji. Di balik layar, para peserta dituntut mampu mengambil keputusan cepat, menjaga konsentrasi, berkomunikasi, serta bekerja sama dalam tekanan.

Dari arena seleksi inilah perjalanan panjang menuju Porwanas 2027 dimulai.

Ketua PWI Lampung, Wirahadikusumah, melihat seleksi tersebut sebagai pintu awal untuk menemukan talenta terbaik dari kalangan wartawan.

Ia berharap para peserta tidak berhenti pada kemampuan yang ditunjukkan dalam satu hari seleksi. Menurutnya, perjalanan menuju ajang nasional masih panjang dan membutuhkan latihan yang konsisten.

“Kami minta para atlet pada seleksi hari ini untuk terus meningkatkan skill yang ada. Kami yakin di Porwanas 2027 nanti, Lampung bisa meraih medali emas,” kata Wirahadikusumah.

Target itu bukan sekadar ambisi. PWI Lampung ingin membangun tim yang benar-benar siap bersaing ketika bertemu atlet dari daerah lain.

Dukungan pun mulai disiapkan. PWI Lampung berharap kolaborasi dengan Pengurus Provinsi E-Sports Indonesia (ESI) Lampung dapat memperkuat pembinaan atlet sejak tahap seleksi hingga persiapan menuju pertandingan nasional.

Bagi dunia e-sports Lampung, nama Nilam Sari Djausal bukan sosok asing. Selain dipercaya sebagai Manajer E-Sports SIWO PWI Lampung, Nilam merupakan Ketua ESI Provinsi Lampung, induk organisasi resmi olahraga elektronik di bawah naungan KONI Lampung.

Keterlibatannya membuat persiapan atlet wartawan dan pembinaan e-sports di Lampung memiliki ruang kolaborasi yang lebih luas.

Nilam mengatakan target yang dipasang SIWO PWI Lampung cukup tinggi. Tim e-sports diharapkan mampu menyumbangkan hingga tujuh medali pada Porwanas 2027.

Namun, ia memahami bahwa medali tidak lahir hanya dari target.

“Dari proses ini, kami ingin mendapatkan atlet-atlet terbaik di PWI Lampung,” ujarnya.

Seleksi, menurut Nilam, harus menjadi proses yang sehat, fair, dan sportif. Setelah pemain terbaik ditemukan, pekerjaan berikutnya justru menjadi lebih panjang: membentuk mereka menjadi sebuah tim.

E-sports memiliki karakter berbeda dengan sejumlah cabang olahraga konvensional. Kemampuan individu memang penting, tetapi kemenangan juga ditentukan oleh komunikasi, ketenangan mengambil keputusan, strategi, dan chemistry antarpemain.

Karena itu, para calon atlet tidak hanya akan diasah untuk semakin mahir bermain. Mereka juga akan ditempa agar mampu memahami karakter rekan satu tim dan membangun pola permainan yang solid.

“Setelah seleksi ini, langkah awal persiapan kami tentunya melakukan evaluasi terhadap kelebihan dan kekurangan tim. Dari sana kami bisa melihat apa saja yang benar-benar dibutuhkan,” kata Nilam.

Penjab E-Sports PWI Lampung, Putra Ramadhan, mengatakan persiapan bahkan telah diarahkan menuju pola pembinaan yang lebih serius. Pelatih dan analis disiapkan untuk membantu membentuk tim yang kompetitif.

Jadwal latihan juga akan dibuat secara intensif. Selain latihan rutin, tim akan menjalani latih tanding dengan tim-tim lain, mengikuti turnamen lokal, serta menambah jam terbang pertandingan.

Semua itu menjadi bagian dari proses panjang untuk menemukan formula terbaik sebelum menghadapi Porwanas 2027.

“Jam terbang penting. Kami ingin pemain tidak hanya kuat saat latihan, tetapi juga terbiasa menghadapi tekanan ketika bertanding,” ujar Putra.

Dari seleksi, latihan akan bergerak menuju uji coba dan try out. Evaluasi dilakukan berulang kali untuk menemukan kombinasi pemain, strategi, dan komunikasi yang paling efektif.

Di titik itu, arena e-sports tidak lagi sekadar tentang siapa yang paling cepat menekan tombol atau siapa yang paling mahir mengendalikan karakter.

Ada disiplin. Ada strategi. Ada mental bertanding.

Dan ada nama Lampung yang harus dibawa.

Bagi para wartawan yang hari itu duduk di depan layar, e-sports mungkin berawal dari hobi dan kegemaran bermain gim. Namun, ketika seragam kontingen dikenakan dan pertandingan nasional dimulai, maknanya berubah.

Layar yang selama ini menjadi tempat bermain akan menjadi arena pembuktian.

Jari-jari yang bergerak cepat akan membawa harapan.

Dan dari ruang sederhana di Kantor PWI Lampung, sebuah mimpi mulai disusun: membawa kemampuan di dunia digital menuju podium Porwanas 2027.

Tujuh medali adalah target yang diletakkan di kejauhan. Perjalanannya masih panjang.

Tetapi langkah pertama sudah dimulai.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post ADS 1