RITME – Komitmen mendukung pemenuhan gizi anak Indonesia terus diperkuat melalui program JAPFA for Kids yang memasuki usia ke-18 tahun. Program tanggung jawab sosial (CSR) PT JAPFA ini tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga melakukan pendampingan intensif untuk memastikan anak-anak yang mengalami masalah gizi mendapatkan penanganan hingga kondisi kesehatannya membaik.
Dalam kegiatan peringatan 18 Tahun JAPFA for Kids di Bandar Lampung, Kamis (30/7/2026), Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengungkapkan hasil skrining terhadap 2.051 siswa sekolah dasar di Lampung Selatan menemukan sebanyak 159 anak mengalami malnutrisi.
“Harapan kami angka tersebut dapat terus ditekan melalui pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Retno.
Menurutnya, penanganan masalah gizi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Karena itu, JAPFA membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari sekolah, orang tua, puskesmas, hingga dinas kesehatan setempat.
“Kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama. Program seperti ini tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus melalui kolaborasi agar manfaatnya benar-benar dirasakan anak-anak,” katanya.
Retno menjelaskan, bantuan yang diberikan tidak berhenti pada tahap penyaluran. JAPFA menerapkan sistem monitoring bulanan untuk memastikan intervensi yang dilakukan tepat sasaran. Setiap bulan, tim ahli melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan anak sebagai indikator perkembangan status gizi.
Selain pendampingan kepada siswa, JAPFA juga memberikan pelatihan kepada guru dan orang tua mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang serta pola hidup sehat. Edukasi tersebut menjadi bagian penting agar perubahan perilaku dapat berlangsung secara berkelanjutan di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Program pendampingan di Lampung merupakan bagian dari implementasi JAPFA for Kids yang berlangsung sepanjang Februari hingga Desember 2026. Dalam periode tersebut, perusahaan menempatkan fasilitator di setiap wilayah dampingan untuk mendampingi sekolah, dengan evaluasi utama dilakukan pada Juli dan Desember.
Pemilihan sekolah penerima program dilakukan berdasarkan sejumlah kriteria, di antaranya merupakan sekolah dasar yang berada di sekitar unit operasional JAPFA, baik pabrik, kantor maupun rumah potong hewan (RPH). Setiap fasilitator yang bertugas juga harus melalui proses seleksi dan pelatihan agar mampu menjalankan pendampingan sesuai standar program.
Retno menegaskan, apabila hingga program berakhir masih terdapat anak yang memerlukan pendampingan lanjutan, JAPFA akan menyerahkan proses pembinaan kepada pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan terkait agar penanganan tetap berlanjut.
Ia mencontohkan keberhasilan program serupa di Kalimantan Barat. Setelah masa pendampingan selesai, sekitar 70 siswa yang masih membutuhkan perhatian khusus diserahkan kepada pemerintah untuk mendapatkan intervensi lanjutan, yang kemudian memperoleh dukungan dari pemerintah setempat.
Melalui pendekatan kolaboratif, edukatif, dan berkelanjutan, JAPFA berharap program ini dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi anak Indonesia. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan target pemerintah dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.(*)













